1
Pengertian Metode
Pembelajaran Macam - Macam, Faktor – faktor, Syarat,dan contoh , yang mempengaruhi
metode pembelajaran – Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi
unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.Dalam kegiatan belajar mengajar dibutuhkan suatu metode
pembelajaran yang menarik agar siswa tidak merasa bosan dengan materi yang
diajarkan oleh guru.
Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsung pembelajaran (Sudjana, 2005:76).
Metode pembelajaran akuntansi adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan
dalam menyajikan atau menyampaikan materi pelajaran akuntansi. menempati
peranan yang tak kalah penting dalam proses belajar mengajar. Dalam pemilihan
metode apa yang tepat, guru harus melihat situasi dan kondisi siswa serta
materi yang diajarkan.
Dalam kegiatan
belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Dalam menghadapi
perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi
belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam kegiatan
mewujudkan kegiatan belajar mengajar (Hasibuan, 2004:3). Metode pembelajaran
merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk
menghadapi masalah tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran dapat
tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode yang efektif dan efisien, guru
akan mampu mencapai tujuan pengajaran.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang
digunakan oleh guru sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
A. Macam – macam metode pembelajaran
Lalu apa aja nih
metode-metode pembelajaran yang bisa kita terapkan? Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, diantaranya:
Ceramah, demonstrasi,
diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium,
dan sebagainya.
B. Faktor-faktor yang
mempengaruhi metode pembelajaran
Sebagai suatu
cara,metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain. Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi
dan kondisi yang khusus dihadapinya, jika memahami sifat-sifat masing-masing
metode tersebut. Menurut Winarno Surakhmad dalam Djamarah (2002:89) pemilihan
dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
1.
Anak didik
Anak didik adalah
manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah, gurulah yang
berkewajiban mendidiknya. Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis,
intelektual, dan psikologis mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pembelajaran mana yang sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan
belajar yang kreatif demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan.
2. Tujuan
Tujuan adalah sasaran
yang dituju dari setiap kegiatan belajar-mengajar. Tujuan dalam pendidikan dan
pengajaran ada berbagai jenis, ada tujuan instruksional, tujuan kurikuler,
tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional. Metode yang dipilih guru
harus sejalan dengan taraf kemampuan anak didik dan sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
3. Situasi
Situasi kegiatan
belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari.Guru
harus memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi yang diciptakan
itu.
4. Fasilitas
Fasilitas merupakan
hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pembelajaran. Fasilitas
adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah.Misalnya
ketiadaan laboratorium untuk praktek IPA kurang mendukung penggunaan metode
eksperimen.
5. Guru
Setiap guru mempunyai
kepribadian yang berbeda. Latar pendidikan guru diakui mempengaruhi kompetensi.
Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi kendala dalam
memilih dan menentukan metode.
C. Syarat-syarat metode
pembelajaran
Menurut Ahmadi dalam
(Asih, 2007:20) syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode
mengajar adalah:
1.
Metode
mengajar harus dapat mermbangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa
2.
Metode
mengajar harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
3.
Metode
mengajar harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil
karya.
4.
Metode
mengajar harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut,
melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan).
5.
Metode
mengajar harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh
pengetahuan melalui usaha pribadi.
6.
Metode
mengajar harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan
menggantinya dengan pengalaman atau situasi yng nyata dn bertujuan.
7.
Metode
mengajar harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap
utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan
sehari-hari.
D.
Contoh – contoh metode pembelajaran
1.
Role
Play
a) Pengertian
Role
play (bermain peran) adalah teknik pembelajaran bahasa yang meminta siswa
memainkan peran tertentu dalam situasi yang ditentukan, dengan menggunakan
bahasa target, yaitu bahasa yang sedang dipelajari (seperti bahasa Inggris,
misalnya). Untuk berlatih mengekspresikan
complaints
and apologies dalam bahasa Inggris, misalnya, siswa bermain peran sebagai
pembeli dan penjual di suatu toko. Pembeli mengembalikan barang yang telah
dibelinya dari toko tersebut karena barang itu rusak.
b) Kompetensi yang
dikembangkan
Keterampilan
berbahasa yang dapat dikembangkan dengan role play adalah speaking,
terutama interpersonal dan transactional dialogues
c) Prosedur
1) Mengajak siswa
mengidentifikasi situasi untuk role play, seperti apakah role playakan
dilaksanakan antara guru dengan siswa, dokter dengan pasien, atau tamu hotel
dengan resepsionais.
2) Mengajak siswa
merancang role play, seperti apakah role play bersifat terstruktur, semi
terstruktur, atau bebas. Juga, apakah role play akan dilaksanakan oleh dua
orang, tiga orang, atau lebih;
3) Memfasilitasi siswa
untuk mengidentifikasi language function yang diperkirakan muncul dalam
percakapan/role play.
4) Mengajak siswa
mengidentifikasi pilihan-pilihan bentuk bahasa (language forms)untuk
masing-masing language function.
5) Mengarahkan siswa
untuk melakukan drilling terhadap beberapa language forms yang telah
teridentifikasi.
6) Memfasilitasi siswa
melakukan latihan role play dalam kelompok kecil.
7) Memfasilitasi siswa
melakukan performance role play di depan kelas.
STRATEGI
PEMBELAJARAN
Definisi /
pengertian strategi pembelajaran. Secara umum strategi dapat
diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha
mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar,
strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik
dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut Sanjaya, (2007 : 126). Dalam dunia
pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Sedangkan Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari pendapat tersebut, Dick and
Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set
materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk
menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2007 : 126).
Dari beberapa pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang
termasuk juga penggunaan metide dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan
dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru
sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan.
Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari
semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga
penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan
sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya
perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.
Model-model
Pembelajaran
Model pembelajaran adalah
bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara
khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Bruce
Joyce dan Marsha Weil (dalam Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990)
mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model
interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model
personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.
Berdasarkan
Permendikbud Nomor 65 Tahun tentang Standar Proses, model pembelajaran yang
diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran Inkuiri
(Inquiry Based Learning),
model pembelajaran Discovery (Discovery
Learning), model pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning), dan
model pembelajaran berbasis permasalahan (Problem
Based Learning).Untuk menentukan model pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
·
Kesesuaian
model pembelajaran dengan kompetensi sikap pada KI-1 dan KI-2 serta kompetensi
pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan KD-3 dan/atau KD-4.
·
Kesesuaian
model pembelajaran dengan karakteristik KD-1 (jika ada) dan KD-2 yang dapat
mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan
tuntutan KD-3 dan KD-4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan
keterampilan.
·
Penggunaan
pendekatan saintifik yang mengembangkan pengalaman belajar peserta didik
melalui kegiatan mengamati (observing),
menanya (questioning),
mencoba/mengumpulkan informasi (experimenting/
collecting information), mengasosiasi/menalar (assosiating), dan mengomunikasikan
(communicating).
Berikut adalah
contoh kegiatan dalam model pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan saintifik
(5M).
1.
Model Inquiry Learning
Model pembelajaran Inkuiri biasanya lebih cocok digunakan pada pembelajaran matematika, tetapi mata pelajaran lainpun dapat menggunakan model tersebut asal sesuai dengan karakteristik KD atau materi pembelajarannya. Langkah-langkah dalam model inkuiri terdiri atas:
Model pembelajaran Inkuiri biasanya lebih cocok digunakan pada pembelajaran matematika, tetapi mata pelajaran lainpun dapat menggunakan model tersebut asal sesuai dengan karakteristik KD atau materi pembelajarannya. Langkah-langkah dalam model inkuiri terdiri atas:
a.
Observasi/Mengamati
berbagi fenomena alam. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar kepada
peserta didik bagaimana mengamati berbagai fakta atau fenomena dalam mata
pelajaran tertentu.
b. Mengajukan pertanyaan
tentang fenomana yang dihadapi. Tahapan ini melatih peserta didik untuk
mengeksplorasi fenomena melalui kegiatan menanya baik terhadap guru, teman,
atau melalui sumber yang lain.
c.
Mengajukan
dugaan atau kemungkinan jawaban. Pada tahapan ini peserta didik dapat
mengasosiasi atau melakukan penalaran terhadap kemungkinan jawaban dari
pertanyaan yang diajukan.
d. Mengumpulkan data yang
terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang diajukan, sehingga pada kegiatan
tersebut peserta didik dapat memprediksi dugaan atau yang paling tepat sebagai
dasar untuk merumuskan suatu kesimpulan.
e.
Merumuskan
kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau dianalisis,
sehingga peserta didik dapat mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.
2. Problem Based Learning
Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya melalui langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya melalui langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
a.
Mengorientasi
peserta didik pada masalah. Tahap ini untuk memfokuskan peserta didik mengamati
masalah yang menjadi objek pembelajaran.
b. Mengorganisasikan kegiatan
pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran salah satu kegiatan agar peserta
didik menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap malasalah
kajian.
c.
Membimbing
penyelidikan mandiri dan kelompok. Pada tahap ini peserta didik melakukan
percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menjawab atau
menyelesaikan masalah yang dikaji.
d. Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya. Peserta didik mengasosiasi data yang ditemukan dari
percobaan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.
e.
Analisis
dan evaluasi proses pemecahan masalah. Setelah peserta didik mendapat jawaban
terhadap masalah yang ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi.
3. Project Based Learning
Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Langkah pembelajaran dalam project based learning adalah sebagai berikut:
Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Langkah pembelajaran dalam project based learning adalah sebagai berikut:
a.
Menyiapkan
pertanyaan atau penugasan proyek. Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta
didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang
ada.
b.
Mendesain
perencanaan proyek. Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada
disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.
c.
Menyusun
jadwal sebgai langkah nyata dari sebuah proyek. Penjadwalan sangat penting agar
proyek yang dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan
target.
d.
Memonitor
kegiatan dan perkembangan proyek. Guru melakukan monitoring terhadap
pelaksanaan dan perkembangan proyek. Peserta didik mengevaluasi proyek yang
sedang dikerjakan.
e.
Menguji
hasil. Fakta dan data percobaan atau penelitian dihubungkan dengan berbagai
data lain dari berbagai sumber.
f.
Mengevaluasi
kegiatan/pengalaman. Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan sebagai
acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata
pelajaran lain.
Kurikulum
Kurikulum adalah perangkat mata
pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan
yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran
dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini
disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Sedangkan
menurut Hilda Taba (1962), Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni
sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan
lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana
untuk peserta didik selama di sekolah.
Aspek yang tidak terungkap secara jelas
tetapi tersirat dalam definisi kurikulum sebagai dokumen adalah bahwa rencana
yang dimaksudkan dikembangkan berdasarkan suatu pemikiran tertentu tentang
kualitas pendidikan yang diharapkan. Perbedaan pemikiran atau ide akan
menyebabkan terjadinya perbedaan dalam kurikulum yang dihasilkan, baik sebagai
dokumen mau pun sebagai pengalaman belajar. Oleh karena itu Oliva (1997:12)
mengatakan “Curriculum itself is a construct or concept, a verbalization of
an extremely complex idea or set of ideas”.
Selain kurikulum diartikan sebagai
dokumen, para ahli kurikulum mengemukakan berbagai definisi kurikulum yang tentunya
dianggap sesuai dengan konstruk kurikulum yang ada pada dirinya. Perbedaan
pendapat para ahli didasarkan pada isu berikut ini:
- filosofi kurikulum
- ruang lingkup komponen kurikulum
- polarisasi kurikulum – kegiatan belajar
- posisi evaluasi dalam pengembangan kurikulum
Pengaruh pandangan filosofi terhadap
pengertian kurikulum ditandai oleh pengertian kurikulum yang dinyatakan sebagai
“subject matter”, “content” atau bahkan “transfer of culture”.
Khusus yang mengatakan bahwa kurikulum sebagai “transfer of culture”
adalah dalam pengertian kelompok ahli yang memiliki pandangan filosofi yang
dinamakan perennialism (Tanner dan Tanner, 1980:104). Filsafat ini
memang memiliki tujuan yang sama dengan essentialism dalam hal
intelektualitas. Seperti dikemukakan oleh Tanner dan Tanner (1980:104-113)
keduanya pandangan filosofi itu berpendapat bahwa adalah tugas kurikulum untuk
mengembangkan intelektualitas. Dalam istilah yang digunakan Tanner dan Tanner
(1980:104) perennialism mengembangkan kurikulum yang merupakan proses
bagi “cultivation of the rational powers: academic excellence” sedangkan
essentialism memandang kurikulum sebagai rencana untuk mengembangkan “academic
excellence dan cultivation of intellect”. Perbedaan antara keduanya adalah
menurut pandangan perenialism “the cultivation of the intellectual virtues
is accomplish only through permanent studies that constitute our intellectual
inheritance”. Permanent studies adalah konten kurikulum yang
berdasarkan tradisi Barat terdiri atas Great Books, reading, rhetoric, and
logic, mathematics. Sedangkan bagi essentialism beranggapan bahwa
kurikulum haruslah mengembangkan “modern needs through the fundamental
academic disciplines of English, mathematics, science, history, and modern
languages” (Tanner dan Tanner, 1980:109).
Perbedaan ruang lingkup kurikulum juga
menyebabkan berbagai perbedaan dalam definisi. Ada yang berpendapat bahwa
kurikulum adalah “statement of objectives” (McDonald; Popham), ada yang
mengatakan bahwa kurikulum adalah rencana bagi guru untuk mengembangkan proses
pembelajaran atau instruction (Saylor, Alexander,dan Lewis, 1981) Ada yang
mengatakan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisikan berbagai
komponen sebagai dasar bagi guru untuk mengembangkan kurikulum guru (Zais,1976:10).
Ada juga pendapat resmi negara seperti yang dinyatakan dalam Undang-Undang
nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa kurikulum adalah “seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaranserta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untukmencapai
tujuan pendidikan tertentu” (pasal 1 ayat 19).
Definisi yang dikemukakan terdahulu
menggambarkan pengertian yang membedakan antara apa yang direncanakan
(kurikulum) dengan apa yang sesungguhnya terjadi di kelas (instruction atau
pengajaran). Memang banyak akhli kurikulum yang menentang pemisahan ini tetapi
banyak pula yang menganut pendapat adanya perbedaan antara keduanya. Kelompok
yang menyetujui pemisahan itu beranggapan bahwa kurikulum adalah rencana yang
mungkin saja terlaksana tapi mungkin juga tidak sedangkan apa yang terjadi di
sekolah/kelas adalah sesuatu yang benar-benar terjadi yang mungkin berdasarkan
rencana tetapi mungkin juga berbeda atau bahkan menyimpang dari apa yang
direncanakan. Perbedaan titik pandangan ini tidak sama dengan perbedaan cara
pandang antara kelompok akhli kurikulum dengan akhli teaching
(pangajaran). Baik akhli kurikulum mau pun pengajaran mempelajari fenomena
kegiatan kelas tetapi dengan latar belakang teoritik dan tujuan.
A. Komponen-Komponen
Kurikulum
Kurikulum
merupakan suatu sistem yang memiliki komponen – komponen tertentu. komponen –
komponen apa saja yang membentuk sistem kurikulum itu? Bagaimana keterkaitan
antar komponen itu? Anda dapat memperhatikan bagan dibawah ini.
Bagan
tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen,
yaitu : komponen tujuan, isi kurikulum, komponen metode atau strategi
pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem, setiap komponen
harus saling berkaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang
membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen
lainnya, maka sistem kurikulum secara keseluruhan juga akan tergganggu.
1.
Komponen Tujuan
Komponen
tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro,
rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang
dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat
yang di cita – citakan, misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut
masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai
oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam
skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta
tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan
proses pembelajaran.
2. Komponen Isi/ Materi
Pelajaran
Isi
kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang
harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang
berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan
pada isi setiap materi pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan
siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai
tujuan yang ditentukan.
3. Komponen Metode/
Strategi
Strategi
dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini
merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan
dengan implementasi kurikulum. Bagaimana bagus dan idealnya tujuan yang harus
dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka maka tujuan itu tidak
mungkin dapat tercapai. Strategi meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan
yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat
diatas, T. Rajakoni mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan
umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sumber:
0 komentar:
Posting Komentar